-->
BLANTERWISDOM101

MENUNGGU KETEGASAN PRESIDEN

Tuesday, March 10, 2015




Kisruh KPK dan POLRI, seakan menggantung di mata publik. Problem yang sangat panas ini semakin buming, baik di media cetak, koran, televisi atau jejaring social sekalipun. Permasalah KPK dan POLRI bergulir bagaikan bola panas yang semakin hari semakin besar. Bergolak bagaikan air mendidih. Begitulah, fakta yang terjadi hari ini, dua elemen hukum yang besar harus berseteru, saling melemahkan diantara bingkai konflik yang mampu menghancurkan citra dua kubu yang menjadi unsur penting negara.

KPK dan POLRI menjadi topik hangat. Buah bibir di berbagai kalangan terutama rakyat Indonesia. Selama ini, kasus tersebut, seperti sulit untuk diredakan. Bahkan sampai saat ini, presiden pun belum bisa mengambil ketegasan terkait konflik tersebut. Hal ini memberikan pertanyaan kepada kita, mengapa sampai saat ini, masalah tersebut dengan derasnya menghiasi Indonesia pertiwi.

Sungguh lucu memang, dua elemen penting negara harus bergesekan. Dan saling melemahkan. Apakah memang ada unsur politis dibalik kisruh tersebut? Ataukah kepentingan oknum yang ingin menghancurkan dua lembaga ini. Tentunya, polemik ini tidak bisa begitu saja terus-menerus dibiarkan. Apalagi berujung pada perkara yang semakin besar dan berpotensi mengacaukan sistem pemerintahan negara kita. Tentunya, ini menjadi keprihatinan juga bagi masyarakat Indonesia.

Budi Gunawan sebagai calon Kapolri negara yang hingga kini masih menggantung statusnya, apakah Budi dilantik atau tidak? Menunggu kepastian yang jelas. Budi Gunawan adalah mantan Kapolda Bali yang diduga menerima gratifikasi saat menjabat sebagai kepala Biro Pembinaan Karier Mabes Polri tahun 2003-2006 dan beberapa jabatan lainnya pada tahun lalu. Sampai beredar kabar bahwa rekening yang dimiliki oleh Budi Gunawan dinilai tidak wajar, alias rekening gendut.

Polemik ini melibatkan presiden Jokowi untuk turun, ikut serta dalam memeriksa Budi Gunawan pemilik rekening gendut ini. Meskipun pada akhirnya, rekening yang dimiliki oleh BG terbilang wajar dari setiap transaksinya. Dengan dasar itu pula Jokowi dan hak preogratifnya, mengusulkan Komjen (Pol) Budi Gunawan sebagai calon Kapolri kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun, selepas itu, masalah berbuntut panjang, api mulai menyala besar, setelah BG ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Budi ditetapkan ketua KPK Abraham Samad di gedung KPK pada tanggal 13 Januari lalu. Hal ini, sampai mengejutkan publik. Sampai-sampai presiden pun kaget, tidak mengira bahwa BG ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi itu. Dengan problem tersebut otomatis Jokowi harus menunda pelantikannya sebagai calon Kapolri negara.

Kemudian Bambang Widjojanto (BW) sebagai wakil ketua KPK harus bernasib sama menghadapi kasus hukum dan ditangkap. Seperti dalam salah satu situs berita online yang saya baca bahwa, Bambang Widjojanto ditangkap layak perampok. BW ditangkap seusai mengantar anaknya sekolah, tepatnya dijalan Lucky Abadi tak jauh dari sekolah anaknya. Dan memang ini menimbulkan suasana tegang, karena pada waktu itu beberapa polisi mengepungnya. BW ditetapkan oleh Kapolri terkait kesaksian palsu di Mahkamah Konstitusi pada waktu lalu. Bambang dituduh melakukan kesaksian palsu dalam sengketa Pilkada di Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah pada tahun 2010 lalu. Kasus tersebut diakuinya memang telah lama. Namun baru kembali dilaporkan 15 Januari 2015. Dengan veifikasi itu, terpaksa Bambang mengundurkan diri sebagai wakil ketua KPK. Di nonaktifkan untuk sementara waktu. (Republika, 23/01)

Melihat dua kasus tersebut, pastinya harus sesegera mungkin menempuh solusi alternatif atas kisruh KPK dan POLRI ini. Dua elemen negara tersebut, perlu diselamatkan oleh kita. Karena tidak mungkin konflik antar lembaga besar ini terus berkelanjutan. Mau seperti apa kedepannya jika hal ini tidak mampu terselesaikan. KPK sebagai lembaga yang bersih bertugas memberantas korupsi, kini harus terhenti langkahnya karena satu anggotanya tersandung kasus pidana. Begitupun BG sebagai calon Kapolri yang nantinya bertugas sebagai keamanan negara, melindungi rakyat, memimpin roda keamanan negara, saat ini harus tertunda pelantikannya. Status BG menggantung, dan sampai sekarang masih simpang siur.

Maka, dalam hal ini, presidenlah yang mampu mengatasi pergolakan KPK dan POLRI yang selama ini menjalar dalam roda pemerintahan. Presiden mesti tegas, mampu memberi keputusan yang baik dan tepat. Tidak mengulur-ulur waktu. Menggantungkan polemik tersebut. Disinilah jiwa seorang pemimpin di uji, sejauhmana kesiapan presiden dalam menghadapi masalah. Apakah Jokowi mampu mengatasi kekisruhan ini, atau malah berbalik menjadi boomerang untuknya. Mungkin tidak semudah membalikan kedua telapak tangan. Dibutuhkan pertimbangan serta kematangan untuk memutuskan hal tersebut.

Meskipun presiden merasa dilematis atas konflik ini, tidak menjadikan alasan untuk berat akan keputusan yang akan diambilnya. Revolusi mental hanya akan menjadi slogan semata, jika kasus ini saja Jokowi tidak mampu menyelesaikannya. Apabila prosedur hukum telah berjalan. Mengacu kedalam regulasi yang jelas. Tidak terintervensi oleh pihak manapun. Sesuai dengan UUD yang berlaku atau payung hukum yang ada. Maka, putuskanlah saat ini, bergegas cepat, tidak ada kata terlambat. Karena ini menyangkut kepentingan negara dan rakyat. Tidak seharusnya rakyat berlarut-larut menjadi penonton setia akan kasus yang bergulir ini.

Presiden haruslah merasa malu, jika pemerintahannya yang belum seumur jagung, kini harus dicederai dengan konflik KPK dan POLRI. Dua lembaga yang seharusnya saling menguatkan, akan tetapi malah saling melemahkan.

Oleh karena itu, wahai presiden Indonesia, tunjukanlah bahwa dirimu mampu mengendalikan ini semua. Masa kepemimpinan masih terbilang lama. Perjalanan barulah dimulai. Masih banyak PR yang harus diselesaikan. Lima tahun kedepan menjadi beban dipundakmu. Beban yang harus presiden emban. Untuk Indonesia yang lebih baik kedepan.
Share This :
CATATAN SI ASEP

Saya adalah seorang konten kreator yang menyukai dunia internet dan teknologi. Karakter kepribadian yang supel dan komunikatif

0 komentar