-->
BLANTERWISDOM101

PETANI DI PANDANG SEBELAH MATA

Friday, March 27, 2015



Matahari telah terbit. Siang telah menyongsong kembali. Petani bersiap membawa cangkul dan sang kerbau untuk membajak sawah. Dengan penuh antusias, ia lewati hari-harinya sebagai bentuk perjuangan yang sangat mulia. Meski peluh membasahi tanah, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bekerja. Bekerja sebagai bentuk aktifitas rutin dan agenda harian.

Jika kita renungkan lebih dalam, jasa seorang petani sangatlah besar. Terutama dalam menghasilkan nasi sebagai makanan pokok kita sehari-hari. Nasi sebagai buah dari keringat yang dilakukan petani. Petani mempunyai kontribusi besar dalam memajukan pangan dan swasembada. Tanpa adanya pangan, mau makan apa kita?.

Petani adalah sebuah profesi yang hari ini dianggap sebelah mata oleh sebagian orang. Mereka merasa gengsi jika harus bersinggungan didunia pertanian. Karena tampilan petani yang lusu dan kotor, menjadikan para pemuda hari ini lebih memilih kegiatan dan profesinya didunia perkantoran dengan tampilan dasi kupu-kupu yang elegan. Pekerjaan kantoran yang yang lebih enjoy dan bergengsi.

Bila kita ketahui. Menjadi seorang petani adalah hal yang sangat mulia. Karena kita bisa menghasilkan makanan untuk semua umat manusia. Dari jaman dahulu sampai dengan sekarang petani menjadi menjadi icon untuk kemajuan dan kehidupan masyarakat. Mereka berani kotor, berani bersentuhan dengan lumpur, tidak menghiraukan panas teriknya matahari. Pagi berangkat, petang barulah beranjak pulang. Perjuangan yang sungguh sangat luar biasa. Maka, seorang petani patut diberi penghargaan. (reward).

Jika kita analogikan, petani bagaikan seorang pahlawan yang telah memberi jasa kepada kita. Dengan tumpukan padi yang amat besar manfaatnya. Yang mana tidak semudah membalikan kedua telapak tangan dalam menghasilkan padi tersebut. Dibutuhkan kesabaran, keuletan serta keilmuwan yang baik untuk bercocok tanam padi itu sendiri. Sehingga padi bisa dipanen dengan hasil yang baik.
Kenapa hari ini petani dianggap sebelah mata?

Petani seakan disepelekan. Apakah memang profesi petani begitu rendah? Seakan-akan petani menjadi budak dari para penikmat hasil pangan (padi) oleh orang-orang besar yang berada diatas sana. Mengambil keuntungan yang berlipat ganda. Tidak pernah merasakan lika-liku dan kerasnya perjuangan seorang pahlawan pangan di pesisir sawah.

Petani kurang diperhatikan. Kurangnya sentuhan dari pemerintah untuk kesejahteraan petani. Bahkan lahannya pun hampir habis dimakan oleh perumahan dan bangunan-bangunan industri. Tak hanya itu, minimnya produksi dan sumber daya manusia di sektor pertanian menjadi setumpuk masalah yang sangat berat. Hal ini dibuktikan dimasa kepemimpinan SBY beberapa tahun kebelakang. Jumlah penurunan angka petani di Indonesia cukup signifikan. Menurut Badan Statistik (BPS) menunjukan bahwa, selama masa kepemimpinan SBY petani mengalami jumlah penurunan. Tepatnya pada tahun 2003, rumah tangga yang menanam padi hanya 14,2 juta, sementara pada tahun 2013 turun di angka 14,1 juta. Sepuluh tahun terakhir penurunan petani dari 31 juta menjadi 26 juta petani. Kurang lebih 20 juta petani ditinggalkan. Sungguh sangat mengerikan, begitulah yang pernah disampaikan oleh Amran Sulaiman sebagai Menteri pertanian (Merdeka.09/01/15)

Hari ini petani banyak yang kolep ketika gagal panen. Karena memang tidak ada jaminan yang baik dari negara.  Sentuhan pemerintah seakan masih belum terwujud dengan maksimal. Petani hanya bisa pasrah ketika gagal panen.

Sebenarnya sudah dijelaskan dalam UU No. 19 Tahun 2003 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani, dalam pasal 1 dikatakan bahwa perlindungan petani adalah segala upaya untuk membantu petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan menghadapi prasarana dan sarana produksi, dan kepastian usaha, risiko harga, kegagalan panen, praktek ekonomi biaya tinggi dan perubahan iklim. Artinya bahwa, permasalah yang dihadapi oleh petani haruslah diperhatikan berikut pemerintah memberi jaminan kepada petani ketika gagal panen.(UU No 19 Th 2003).

Namun,  sampai saat ini petani seakan terkucilkan. Belum tersentuh oleh pemerintah. Petani seperti hilang harapan dengan profesi yang digelutinya. Modal yang cukup besar dikeluarkan oleh petani menjadi beban apabila diakhir panen tidak sesuai dengan yang diharapkan. Apalagi diakhir musim panen, para petani harus membayar hutang atas modal yang telah dikeluarkan diawal.

Inilah yang menjadikan pekerjaan petani kurang disukai oleh sebagian orang. Karena memang mempunyai risiko yang berat  jika panen mengalami kegagalan. Lalu, kurangnya  kesejahteraan bagi petani dari pemerintah.

Untuk  itu, kepada pemerintah, khususunya dimasa kepemimpinan Jokowi hari ini, diharapkan mampu  memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada seluruh petani. Sesuai dengan janjinya, Jokowi akan mensejahterakan kehidupan petani dimasa yang akan datang  jika menjadi Presiden RI.
Semoga ini bukan hanya wacana semata. Atau sebuah janji tanpa adanya realisasi.

Jangan sampai petani di sepelekan, dianggap sebelah mata, karena mereka adalah pahlawan dalam menghasilkan swasembada pangan   sepanjang jaman.


Share This :
CATATAN SI ASEP

Saya adalah seorang konten kreator yang menyukai dunia internet dan teknologi. Karakter kepribadian yang supel dan komunikatif

0 komentar