
Matahari telah terbit.
Siang telah menyongsong kembali. Petani bersiap membawa cangkul dan sang kerbau
untuk membajak sawah. Dengan penuh antusias, ia lewati hari-harinya sebagai
bentuk perjuangan yang sangat mulia. Meski peluh membasahi tanah, tidak
menyurutkan semangatnya untuk tetap bekerja. Bekerja sebagai bentuk aktifitas
rutin dan agenda harian.
Jika kita renungkan
lebih dalam, jasa seorang petani sangatlah besar. Terutama dalam menghasilkan
nasi sebagai makanan pokok kita sehari-hari. Nasi sebagai buah dari keringat
yang dilakukan petani. Petani mempunyai kontribusi besar dalam memajukan pangan
dan swasembada. Tanpa adanya pangan, mau makan apa kita?.
Petani adalah sebuah
profesi yang hari ini dianggap sebelah mata oleh sebagian orang. Mereka merasa
gengsi jika harus bersinggungan didunia pertanian. Karena tampilan petani yang
lusu dan kotor, menjadikan para pemuda hari ini lebih memilih kegiatan dan
profesinya didunia perkantoran dengan tampilan dasi kupu-kupu yang elegan.
Pekerjaan kantoran yang yang lebih enjoy dan bergengsi.
Bila kita ketahui.
Menjadi seorang petani adalah hal yang sangat mulia. Karena kita bisa
menghasilkan makanan untuk semua umat manusia. Dari jaman dahulu sampai dengan
sekarang petani menjadi menjadi icon untuk kemajuan dan kehidupan masyarakat. Mereka
berani kotor, berani bersentuhan dengan lumpur, tidak menghiraukan panas
teriknya matahari. Pagi berangkat, petang barulah beranjak pulang. Perjuangan
yang sungguh sangat luar biasa. Maka, seorang petani patut diberi penghargaan.
(reward).
Jika kita analogikan,
petani bagaikan seorang pahlawan yang telah memberi jasa kepada kita. Dengan
tumpukan padi yang amat besar manfaatnya. Yang mana tidak semudah membalikan
kedua telapak tangan dalam menghasilkan padi tersebut. Dibutuhkan kesabaran,
keuletan serta keilmuwan yang baik untuk bercocok tanam padi itu sendiri.
Sehingga padi bisa dipanen dengan hasil yang baik.
Kenapa hari ini petani
dianggap sebelah mata?
Petani seakan
disepelekan. Apakah memang profesi petani begitu rendah? Seakan-akan petani
menjadi budak dari para penikmat hasil pangan (padi) oleh orang-orang besar
yang berada diatas sana. Mengambil keuntungan yang berlipat ganda. Tidak pernah
merasakan lika-liku dan kerasnya perjuangan seorang pahlawan pangan di pesisir
sawah.
Petani kurang
diperhatikan. Kurangnya sentuhan dari pemerintah untuk kesejahteraan petani.
Bahkan lahannya pun hampir habis dimakan oleh perumahan dan bangunan-bangunan
industri. Tak hanya itu, minimnya produksi dan sumber daya manusia di sektor
pertanian menjadi setumpuk masalah yang sangat berat. Hal ini dibuktikan dimasa
kepemimpinan SBY beberapa tahun kebelakang. Jumlah penurunan angka petani di
Indonesia cukup signifikan. Menurut Badan Statistik (BPS) menunjukan bahwa,
selama masa kepemimpinan SBY petani mengalami jumlah penurunan. Tepatnya pada
tahun 2003, rumah tangga yang menanam padi hanya 14,2 juta, sementara pada
tahun 2013 turun di angka 14,1 juta. Sepuluh tahun terakhir penurunan petani
dari 31 juta menjadi 26 juta petani. Kurang lebih 20 juta petani ditinggalkan.
Sungguh sangat mengerikan, begitulah yang pernah disampaikan oleh Amran
Sulaiman sebagai Menteri pertanian (Merdeka.09/01/15)
Hari ini petani banyak
yang kolep ketika gagal panen. Karena memang tidak ada jaminan yang baik dari
negara. Sentuhan pemerintah seakan masih
belum terwujud dengan maksimal. Petani hanya bisa pasrah ketika gagal panen.
Sebenarnya sudah
dijelaskan dalam UU No. 19 Tahun 2003 tentang perlindungan dan pemberdayaan
petani, dalam pasal 1 dikatakan bahwa perlindungan petani adalah segala upaya
untuk membantu petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan menghadapi
prasarana dan sarana produksi, dan kepastian usaha, risiko harga, kegagalan
panen, praktek ekonomi biaya tinggi dan perubahan iklim. Artinya bahwa,
permasalah yang dihadapi oleh petani haruslah diperhatikan berikut pemerintah
memberi jaminan kepada petani ketika gagal panen.(UU No 19 Th 2003).
Namun, sampai saat ini petani seakan terkucilkan.
Belum tersentuh oleh pemerintah. Petani seperti hilang harapan dengan profesi
yang digelutinya. Modal yang cukup besar dikeluarkan oleh petani menjadi beban
apabila diakhir panen tidak sesuai dengan yang diharapkan. Apalagi diakhir
musim panen, para petani harus membayar hutang atas modal yang telah
dikeluarkan diawal.
Inilah yang menjadikan
pekerjaan petani kurang disukai oleh sebagian orang. Karena memang mempunyai
risiko yang berat jika panen mengalami
kegagalan. Lalu, kurangnya kesejahteraan
bagi petani dari pemerintah.
Untuk itu, kepada pemerintah, khususunya dimasa
kepemimpinan Jokowi hari ini, diharapkan mampu memberikan perlindungan dan pemberdayaan
kepada seluruh petani. Sesuai dengan janjinya, Jokowi akan mensejahterakan
kehidupan petani dimasa yang akan datang jika menjadi Presiden RI.
Semoga ini bukan hanya
wacana semata. Atau sebuah janji tanpa adanya realisasi.
Jangan sampai petani di
sepelekan, dianggap sebelah mata, karena mereka adalah pahlawan dalam menghasilkan
swasembada pangan sepanjang jaman.
Share This :

0 komentar