-->
BLANTERWISDOM101

SEKOLAH YANG TAHU SIAPA SISWA

Tuesday, March 10, 2015



Ujian Nasional (UN) kurang lebih dua bulan yang akan datang akan menghampiri para siswa di setiap sekolahnya, terutama bagi kelas IX dan XII. Rasanya, ini menjadi ketegangan juga oleh sebagian siswa.  Para murid dengan intens mempersiapkan diri, belajar dengan giat untuk menghadapi UN. Karena UN adalah detik-detik terakhir dipenghunjung para siswa belajar dibangku sekolah. Maka, kesungguhan bisa terlihat dari setiap siswa yang ingin lulus dan mendapatkan nilai memuaskan. Selain itu, guru-guru pun mulai sibuk untuk mempersiapkan UN ini. Karena UN bukan saja hajat para murid semata, tetapi tanggungjawab guru pula untuk mensukseskan atas pelaksanaannya itu.

UN setiap tahun selalu digelar untuk menguji kemampuan para siswa, terutama dalam ranah kognitif (pengetahuan), Karena memang sisi pengetahuan yang sangat mendominasi disana.

Ujian nasional bisa dibilang momok yang menakutkan setiap tahunnya. Terkadang para siswa merasa stress dan tertekan dalam pelaksanaan UN. Entah karena gugup, takut atau merasa tegang, sehingga belum apa-apa sudah terjadi hal yang tidak diinginkan. Hal tersebut adalah realita yang pernah terjadi diantara untaian pelaksanaan UN. bukan hanya itu, UN di Indonesia sepertinya belum memberikan perubahan yang signifikan. Dunia pendidikan  masih terlihat carut-marut dengan label UN yang banyak menimbulkan Pro dan Kontra. Seperti bocornya kunci jawaban, keterlambatan soal dari pusat, bahkan kongkalikong pihak sekolah sendiri untuk berbuat curang.

Tiga tahun duduk dibangku sekolah, bukan waktu yang sebentar. Banyak pengorbanan yang disumbangkan. Baik tenaga, pikiran, materi maupun imateri demi lancar dan sukses sekolah kita. Akan tetapi perjalanan 3 tahun akan terlihat nihil, jika seorang murid tidak lulus dalam Ujian Nasional. Pastinya, kekecewaan datang, kegagalan yang tak diharapkan menggoreskan luka bagi para siswa yang tidak beruntung dalam menghadapi UN.  Alhasil, siswa menjadi frustasi, patah semangat, karena mendapat kekesalan yang begitu menyakitkan. Bahkan tak jarang karena kekecewaan tidak lulusnya dalam UN, siswa bisa saja melakukan aksi negative yang tak diharapkan. Ini memberikan keprihatinan pula bagi kita, tentunya dengan dampak kelulusan yang hanya ditentukan dalam qurun waktu 3 hari.

Sekolah adalah tempat menimba ilmu. Lembaga formal yang setiap murid pasti lalui. Berbagai cerita (memory), belajar, bermain, bersahabat, berpacu dalam prestasi adalah gambaran yang selalu terjadi dalam dunia sekolah. Para siswa adalah mereka yang ditugaskan untuk belajar dengan sebaik-baiknya, pasti, tidak terlepas dari kontroling seorang guru yang mendidik dan membinanya setiap saat. Guru mempunyai kewajiban untuk menilai, mengevaluasi dari perkembangan murid-muridnya. Guru pasti lebih tahu akan karakter, sikap peserta didik yang dipegangnya. Siapa murid yang pandai, siapa murid yang kurang paham, atau sekalipun murid yang begitu nakal, guru mampu mengetahuinya. Guru bisa dibilang orang tua kedua setelah ayah dan ibu. Guru mempunyai tanggungjawab yang besar untuk mengukur sejauhmana perkembangan peserta didiknya. Sungguh terbilang tak bertanggungjawab, jika seorang guru mengabaikan peserta didiknya.

Maka, akan lebih pas jika UN dikombinasikan pula dengan penilaian guru dan pihak sekolah. Bukan saja nilai UN yang menjadi tolak ukur kelulusan. Akan tetapi semua diakumulatifkan bersama nilai yang diberikan oleh pihak sekolah itu sendiri. Bisa saja 50 % hasil UN dan 50 % lembaga sekolah.
Mungkin dibilang tidak adil, jika UN adalah aspek terbesar, penentu akhir hayat para murid dipenghunjung sekolahnya. UN yang hanya mengakomodir kelulusan para siswa, tanpa melibatkan penilaian lain. Oleh karena itu, dampaknya sangat besar sekali. Bisa saja setiap tahun, UN hanya menggambarkan kegelisahan para murid saja.

Jika kita melihat, dari tahun ke tahun, UN, hanya menitik beratkan pada sisi kognitif semata. Tanpa mencantumkan aspek psikomotorik dan apektif. Meskipun dengan waktu yang  relative sedikit, tidak mungkin aspek tersebut dicantumkan disana. Artinya kita berharap, dua aspek tersebut benar-benar diperhitungkan dalam kelulusan seorang siswa. Karena, manusia bukan hanya memiliki kecerdasan IQ saja. EQ dan SQ pun sangat penting untuk di eksplor, demi membangun karakter siswa itu sendiri. Seorang siswa belumlah terlihat istimewa jika hanya di nilai pada aspek kognitif saja. Semua akan terlihat percuma, atau nonsense, ketika siswa tersebut pandai dan jenius, tetapi akhlaknya jelek. Tidak mencerminkan perilaku seorang yang berpendidikan.

Untuk itu, tiga aspek tersebut saya kira menjadi absah dan real, untuk meluluskan siswa diakhir tahunnya. Kita ketahui guru setiap saat, memantau murid, berkomunikasi, membangun emosional bersama murid, begitupun pihak sekolah. Oleh sebab itu, guru dan pihak sekolah mempunyai hak dan wewenang meluluskan para murid-muridnya. Walau UN menjadi standarisasi kelulusan, tetapi itu belum cukup, perlu diakumulatifkan dengan penilaian guru dan lembaga sekolah. Sekolah yang lebih tahu siswa, guru yang lebih dekat dengan siswa, guru dan pihak sekolah lebih tahu  akan sikap (attitude) para siswa.

Hari ini, para murid mungkin tidak usah bingung kembali.  Karena, UN tidak lagi menentukan kelulusan siswa. Namun, pihak sekolahlah yang memberikan kelulusan tersebut. Ini memberi peluang yang sangat besar untuk para murid-murid, khusus para peserta UN nanti. Setidaknya, dengan system yang dibangun hari ini, tidak memberikan lagi ketakutan yang mendalam bagi para murid nantinya. Para siswa mesti lebih optimis dan intens dalam belajar. Jangan ada anggapan bahwa, dengan dipercayakannya sekolah memegang kelulusan, kita para murid menjadi santai untuk belajar. Akan tetapi, kita harus lebih giat dan lebih tekun lagi. Jadikanlah UN sebagai media untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa.. Penuh keseriusan dalam mengerjakannya demi mendapatkan hasil yang memuaskan. dan tak lupa, munculkanlah setiap rasa percaya diri di setiap hati para murid saat ini, guna kita mendapatkan kebanggaan dan kegembiraan dari hasil UN yang telah kita laksanakan. Berusahalah semaksimal mungkin.

Tunjukan kesungguhan para murid-murid sekalian. Manjadda wajadda (barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil)
Share This :
CATATAN SI ASEP

Saya adalah seorang konten kreator yang menyukai dunia internet dan teknologi. Karakter kepribadian yang supel dan komunikatif

0 komentar